― Tere Liye, Berjuta Rasanya
“..ajarkan aku untuk selalu memiliki hati yang cantik, hati yang
cantik… Tidak peduli meski orang-orang tidak pernah sekali pun menyadari
kecantikan hati tersebut.”
― Tere Liye, Berjuta Rasanya
“Ya Tuhan, aku sempurna tertikam oleh ilusiku sendiri. Pengkhianatan oleh hatiku yang sibuk meguntai simpul pertanda cinta.”
― Tere Liye, Berjuta Rasanya
“Mungkin ada benarnya juga buku - buku itu bilang. Orang - orang
yang jatuh cinta terkadang terbelenggu oleh ilusi yang diciptakan oleh
hatinya sendiri.”
― Tere Liye, Berjuta Rasanya
“Percayalah, hal yang paling menyakitkan di dunia bukan saat kita
lagi sedih banget tapi nggak ada satupun teman untuk berbagi. Hal yang
paling menyakitkan adalah saat kita lagi happy banget tapi justru nggak
ada sat pun tema untuk membagi kebahagiaan tersebut.”
― Tere Liye, Berjuta Rasanya
“Kakek, apakah cinta itu memberi, seperti yang selalu Kakek lakukan saat memberi makan ayam - ayam?"
"Tidak. Karena kau selalu bisa memberi tanpa sedikitpun memiliki
perasaan cinta, tetapi kau takkan pernah bisa mencintai tanpa selalu
memberi.”
― Tere Liye, Berjuta Rasanya
“Ya, cinta seperti hantu. Semua orang membicarakannya, tetapi sedikir sekali yang benar - benar pernah melihatnya.”
― Tere Liye, Berjuta Rasanya
“Kakek, apakah cinta itu seperti musik?"
"Ya. Ia seperti musik, tetapi cinta sejati akan membuatmu selalu menari meskipun musiknya telah lama berhenti.”
― Tere Liye, Berjuta Rasanya
“Kakek, dari kota manakah cinta datang?"
"Tidak ada yang tahu, Sayang. Cinta sejati datang begitu saja, tanpa satu alasan apapun yang jelas!”
― Tere Liye, Berjuta Rasanya
“Apakah cinta sejati itu? Apakah ia sebentuk perasaan yang tidak bisa
dibagi lagi? Apakah ia sejenis kata akhir sebuah perasaan? Tidak akan
bercabang? Tidak akan membelah diri lagi? Titik? Penghabisan? Bukankah
lazim seseorang jatuh cinta lagi padahal sebelumya sudah berjuta kali
bilang ke pasangan - pasangan lamanya, "Ia adalah cinta sejatiku!”
― Tere Liye, Berjuta Rasanya
“Kakek apakah cinta sesejuk air sungai ini?"
"Ya. Cinta sejati memang seperti air sungai, sejuk menyenangkan, dan
terus mengalir. Mengalir terus ke hilir tidak pernah berhenti. Semakin
lama semakin besar karena semakin lama semakin banyak anak sungai yang
bertemu. Begitu juga cinta, semakin lama mengalir semakin besar batang
perasaannya."
"Kalau begitu ujung sungai ini pasti ujung cinta itu?"
"Cinta sejati adalah perjalanan, Sayang. Cinta sejati tak pernah memiliki tujuan.”
― Tere Liye, Berjuta Rasanya
“Kakeknya berbohong. Cinta tidak seperti air sungai, sejuk, dan
menyenangkan. Baginya, sekarang cinta lebih sepert moncong meriam.
Sesaat lalu melontarkannya tinggi sekali hingga ke atas awan, tetapi
sekejap kemudian menghujamkannya dalam - dalam ke perut bumi.”
― Tere Liye, Berjuta Rasanya
“Tidak seperti waktu, relativitas nasib sudah diterjemahkan dengan
maju oleh manusia di seluruh muka bumi melalui ukuran tertentu, yang
sayang sekali ukuran tersebut mutlak berasal dari kesepakatan mereka.”
― Tere Liye, Berjuta Rasanya
“Lantas aku apa? Cillean Filleta? Makhluk yang tidak memerlukan
pasangan untuk bereproduksi selama hidupnya? Makhluk yang ditakdirkan
jomblo sepanjang usianya? Hiks!”
― Tere Liye, Berjuta Rasanya
“Cinta memang tidak pernah adil," keluhnya terluka.”
― Tere Liye, Berjuta Rasanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar